Eraharjo’s Weblog

Semalam di Lembah Code

June 21, 2008 · Leave a Comment

Dengan ketangkasan seorang maestro, pak Giman membanting
becak kosongnya memotong keramaian lalu lintas di Jl. Simanjuntak
dan masuk kesuatu gang. Sekilas gang tsb tampak tak berbeda
dengan gang-gang lain yang berderet di jalan itu, cuma di
sudut mulutnya terdapat sebuah papan nama kecil bertuliskan
Gg. Yomodipati yang adalah dewa kematian dalam mitologi
wayang dan di sebelahnya berdiri sebuah patung ‘Yan Wang’
yang biasa dijumpai di pekuburan Cina. Tidak lebih dari
seratus meter dari mulut gang sudah tidak terlihat lagi
rumah manusia melainkan hamparan batu nisan di sebelah kiri
dan kanan jalan, namun pak Giman tetap terus melaju bersama
becak kosongnya. Malam itu dia sedang menjemput salah
seorang langganan tetapnya.

RT x, kelurahan Terban, tujuan pak Giman, terletak pada tanah
liar bekas pekuburan Cina. Karena berada di suatu lembah
sungai maka rumah-rumah disana tak terlihat dari tanah datar
diatasnya yang merupakan pekuburan umum dan masih berfungsi.
Lembah tsb dikenal sebagai lembah Code sebab dibawah sana
mengalir kali Code dengan tenang dan elegan. Saat itu sang
surya telah tenggelam di peraduannya dengan meninggalkan warna
jingga lembut di ufuk barat, seolah-olah menyesali bahwa
seharian telah berlaku garang terhadap warga lembah Code;
dan sore itu sang surya berusaha memberi sedikit konsolasi
kepada mereka.

Seorang gadis kecil bernama Asri yang pernah menderita polio
berjalan tertatih-tatih melewati sebuah lengkong menuju
ke rumahnya. Rambutnya kusut, roknya kumal dan sekitar hidung
dan mulutnya cemong dengan ingus kering campur basah, namun
ekspresi wajahnya seperti biasa senantiasa ceria.

“Ee cah ayu-ayu kok yah mene isih rebes koyo bedhes !”
(anak cantik sesore ini kok masih belum mandi seperti
anak monyet).

Demikian sapaku kepada gadis kecil tsb. Seketika itu Asri
berbalik memutar pantatnya sambil berteriak kearahku,

“Pak Ekek elek, koyo mbelek !”
(pak Eko jelek seperti tahi ayam)

Aku pura-pura mengejarnya dengan menderapkan kaki ke tanah
dan menepuk tangan ke paha. Asri berusaha lari sekencangnya
tubuhnya sampai sempoyongan, tetapi berhasil juga mencapai
pintu belakang rumahnya tanpa terjatuh. Begitulah tipe dari
rata-rata warga di lembah Code, mulai dari anak-anak sampai
orang tua, selalu ramah dan ceria tetapi sekali diprovokasi
kontan balik menyerang.

Tidak berapa lama Aryo, kakak Asri, dengan muka tak kalah
cemongnya pulang ke rumah setelah seharian main tak tentu
rimbanya. Anak ini agak berkurang pendengarannya akibat
congek yang telah lama dideritanya. Tetapi keramahan dan
kesantunan Aryo tidak kalah dengan anak priyayi Yogya
manapun. Hanya, harap pikir dua kali kalau mau menyakiti
anak ini, bisa-bisa kepalamu dilempar batu dari belakang
atau barang yang paling kamu sayangi dirusaknya. Dua anak
itu dalam sekejab akan disulap oleh mbah Dipo, nenek mereka,
menjadi anak-anak yang cukup layak dipandang.

Di depan rumah ada kesibukan lain. Mbak Minah, ibu dari Asri
dan Aryo, dan mbak Midah, adiknya, sedang menyiapkan diri
untuk berangkat kerja. Profesi mereka adalah penjaja seks.
Tetapi bukan penjaja seks biasa melainkan yang berwawasan
identitas. Oleh karena itu mereka mengenakan kain dan kebaya,
dan daerah pasarannya di Sosrowijayan, tempat dimana hotel
dan losmen untuk turis tumbuh bagai jamur di musim hujan.

Mbak Minah berkulit kuning langsat dengan mata redup dan
roman muka pasrah, submissive. Oleh karena itu kebaya yang
dipilihnyapun berwarna pink, warna menyerah. Sebaliknya
mbak Midah yang memiliki lesung pipit di pipi dan kejapan
mata bak bintang Timur memilih mengenakan kebaya warna
kuning, lambang dominansi. Keduanya sudah satu jam lebih
berdandan di bawah penerangan sinar petromak. Sementara
itu pak Giman bersama becaknya menunggu dengan sabar di
halaman sambil menikmati rokok linthingan dengan aroma
kelembak – menyan.

Boniem dan Tomblok juga mempunyai profesi yang sama, cuma
mereka tergolong pada jajaran eselon yang paling rendah,
yakni kelas ‘lesehan’. Pasaran mereka di lokasi pembuangan
sampah di Jl. Perwakilan, antara jembatan Gondolayu dan
jembatan Kota Baru. Oleh karena itu mereka tidak membutuhkan
persiapan yang complicated seperti mbak Minah dan mbak Midah.
Jam kerja merekapun agak lebih longgar. Boniem bahkan masih
tenang-tenang menyusui anaknya di bangku panjang depan rumah.
Sedangkan Tomblok kemungkinan besar absen malam ini. Sebab
dia sedang menderita ‘masuk angin’, badannya ‘nglemeng’ dan
kepalanya terasa berdenyut. Terlihat potongan ’salon pas’
menempel di kedua pelipisnya dan satu potongan besar di
tengkuknya. Walaupun demikian, Tomblok masih berusaha ramah
kepada siapa saja, hanya hari itu ia nampak lebih sering
meludah.

Mbak Minah dan mbak Midah berangkat dengan diiringi tawa keras
berderai dari mbah Dipo yang sempat bercanda dengan pak Giman.
Mendengar tawa renyah dari mbah Dipo, tidak bisa tidak orang
yang mendengarnya akan teresonansi menjadi ikut ceria. Sejak
Dipo Samudro, suaminya, dibantai pada tahun 65, mbah Dipo wedok
seorang diri menahkodai biduk rumah-tangganya. Ia terusir dari
desanya, bersama kedua putrinya ia bertekat mengadu nasib di
kota Yogya. Tentu beliau sangat sarat dengan penderitaan dan
kesengsaraan hidup. Garis-garis keriput di wajahnya menunjukkan
betapa gigih pergulatannya melawan tantangan kehidupan. Garis-
garis ini lebih tepat disebut sebagai garis kemenangan. Ya,
mbah Dipo telah menjadi sang biang kehidupan yang mampu
menundukkan penderitaan, bahkan mempermainkannya semudah ia
mempermainkan susur yang selalu menempel di mulutnya, kapan
saja ia mau dengan mudah bisa diludahkannya….cuih!

→ Leave a CommentCategories: feminist
Tagged: , ,

Mozart dan Konsep Surga

June 21, 2008 · Leave a Comment

Kiranya tidak ada yang membantah bahwa musik klasik
adalah suara surgawi. Komponis seperti Bach Sr & Jr
dalam arti tertentu adalah rasullulah (utusan Allah) yang
memperoleh wahyu surgawi untuk menulis komposisi
musik sehingga seluruh umat manusia didunia bisa turut
menikmati keindahan surga.

Rasul atau nabi bisa bermacam-macam demikian juga
komponis. Bach adalah embah-nya komponis klasik
dimana “nabi-nabi” besar lainnya seperti Haydn, Mozart
(God rest his soul) dan Beethoven berguru kepadanya.
Bach mewartakan musiknya dengan style Barok suatu
gaya yang indah nan agung yang umumnya dimainkan
di antara elite Gereja dan bangsawan.

Saya tidak tahu apakah di surga ada gerakan seperti
reformasi, revolusi atau demokratisasi yang mengacu
pada sikap hidup egaliter yakni mendistribusikan power,
kemakmuran dan nikmat surgawi ketangan rakyat biasa.
Yang jelas, dalam dunia musik klasik terdapat gerakan
semacam itu.

Adalah Herr Mozart (Wolfgang Amadeus) yang mula
pertama ‘nyleneh’ (eccentric) yakni mewartakan nikmat
surga ke semua lapisan rakyat termasuk kaum proletar.
Berbagai komposisi operanya, baik musik maupun
ceritanya adalah bertemakan kerakyatan. Dalam The
Magic Flute bahkan bahasanyapun memakai bahasa Jerman,
bahasa rakyat. Bukan bahasa Latin yang merupakan
bahasa standar kaum dewa, elite Gereja dan bangsawan.

Mozart merupakan hadiah langsung dari surga. Ia adalah
seorang child prodigy. Pada umur 4 tahun ia mengarang
Twinkle-Twinkle Litle Star. Belum genap sepuluh tahun
ia telah menulis opera secara lengkap. Kontras dengan
kejeniusannya, hidup Mozart penuh dengan kesusahan.
Ibunya meninggal pada waktu mendampingi Mozart belia
tour ke Perancis. Mozart tidak pernah memperoleh posisi
yang layak, bahkan tidak pula laku menjadi Court
Composer, yang pada waktu itu umumnya diduduki
oleh komponis dari Itali seperti Sarieli. Ia meninggal
dalam keadaan mengenaskan, miskin, tanpa pengakuan
dan dikubur secara massal (bersama puluhan mayat
lainnya dalam satu lubang).

Kisah hidup Mozart mengajarkan bahwa konsep surga
sedikit lebih complicated, yakni mengikut sertakan dunia
fana yang penuh dengan susah dan derita. Sang Budha
menjalani derita dan Samsara (sengsara) untuk menjadi
Muksa (mencapai surga). Yesus melewati Via Dolorosa
(jalan kesengsaraan) untuk mencapai kemuliaan.
Muhammad saw menjalani segala hinaan, pengusiran dan
perang demi mencapai Islam (tunduk kepada karsa Allah
Yang Maha Esa) bahkan sampai sekarang kita masih
mendengar berbagai cercaan dan hinaan yang ditujukan
kepada sang Rasullulah tsb.

Hal ini tentu mengubah motto kekanak-kanakan seperti
“Masa kecil bahagia, muda kaya raya, tua masuk surga”.
Sebab tidak demikianlah realita dari penghuni surga
sejati. Saya rasa ini merupakan konsolasi bagi kita
yang pada masa kecil kurang gizi, muda hutang KMI
(kredit mahasiswa indonesia) dan ketika tua tidak
mampu naik haji. Kesamaan dari tokoh-tokoh seperti
Mozart, Budha, Yesus, Muhammad saw adalah mereka
setia mengikuti panggilan suara hati terdalam dengan
ongkos apapun, ongkos sendiri bukan ongkos kesusahan
orang lain.

Eko Raharjo

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized

Uniti dan Disiplin Kunci Keperkasaan Bangsa

June 21, 2008 · Leave a Comment

Tahun 2005 saya berada di Chiba Perfecture dekat Tokyo.
Pagi-pagi saya di bawa Fukuyama San (tour guide)
ke rumah keluarga samurai pada Edo period, Ieyasu
Shogun (1603), era ketika VOC mulai menancapkan
kuku kolonialisme di bumi Indonesia.

Mengunjungi tiap bilik dari rumah samurai yang
serba teratur dan tertata rapi (in order) memberikan
pengertian kepada saya kenapa bangsa ini bisa bertahan
dari gelombang kolonialisasi bangsa-bangsa Eropa semasa
itu. Uniti dan disiplin adalah tulang punggung dari
peradaban bangsa Jepang yang membuat mereka mampu
bertahan pada masa-masa sesulit apapun.

Pada waktu itu jepang menganut sistem kelas. Kelas
samurai adalah kelas tertinggi setelah golongan feodal,
menyusul kelas petani, dibawahnya adalah kelas pengrajin
dan yang paling bawah adalah kelas merchant. Menariknya
kaum samurai (militer) dan petani yang merupakan kelas
tinggi justru (lebih) miskin dibanding dengan kelas
pengrajin dan merchant. Adalah biasa dalam famili samurai
untuk menanam sayur-sayuran sendiri dibelakang rumah
untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Ini adalah
distribusi power yang cukup adil.

Saya berkesempatan pula menghirup teh lokal dengan
ditemani oleh mrs Ida dan miss Yukiko dan pemusik-2
shamizen yang mendendangkan lagu-lagu kepahlawanan
masa samurai. Penghormatan dan kecintaan mereka terhadap
sejarah dan budaya merupakan juga identitas bangsa ini.
Disiplin dan uniti hanya tumbuh subur pada tanah
dengan lapisan social justice dan dipupuk dengan
kecintaan dan kebanggaan akan identitas yang datang
dari kebersamaan nasib, sejarah, dan adat dan budaya.
Bagi bangsa Jepang disiplin tidak lagi merupakan
suatu beban melainkan suatu ekspresi kecintaan dan
kebanggaan untuk menjaga ordnung (order), seperti
halnya alam mengatur sakura blossom, petani menanam
dan menuai padi, pengrajin menempa pedang katana dan
merchant mempresentasikan dagangannya nan teratur, apik.

Order merupakan ritual yang amat penting yang dilupakan
oleh umat manusia di Indonesia. Dengan menjaga order
bangsa Jepang tidak usah menunggu mati kalau mau
merasakan surga. Mereka mampu menciptakan surga dibumi.
Berada di desa Sakura diantara kebun-kebun yang dilatar
belakangi rumpun bambu dengan keramah-tamahan Mrs Ida,
Miss Yukiko, Fukuyama san, begitu indah, asri dan peni,
I feel like in heaven already.

Satu bangsa mesti mengandaikan bahwa para warganya share
the same sentiment, perasaan senasib dan sepenanggungan
(dalam frame sejarah) dan memiliki kebanggaan dan kesamaan
dalam nilai-nilai adat dan budaya (moral value, sense of
fulfilment). Ini merupakan modal yang amat penting untuk
mencapai unity dan discipline. Kemajuan ekonomi dan iptek
adalah sekedar akibat bukan merupakan komponen utama dari
jati diri bangsa. Setiap bangsa kalau memperoleh kondisi
yang cocok untuk tumbuh dan berkembang pasti akan mampu
meraih puncak keemasannya, apakah itu Egyptian, Persian,
Greek, Roman, Inca, Mayan, etc. Bangsa Jepang selalu mampu
menciptakan kondisi sehingga masyarkatnya bisa tumbuh dan
berkembang optimal sesuai potensi mereka.

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized