Dengan ketangkasan seorang maestro, pak Giman membanting
becak kosongnya memotong keramaian lalu lintas di Jl. Simanjuntak
dan masuk kesuatu gang. Sekilas gang tsb tampak tak berbeda
dengan gang-gang lain yang berderet di jalan itu, cuma di
sudut mulutnya terdapat sebuah papan nama kecil bertuliskan
Gg. Yomodipati yang adalah dewa kematian dalam mitologi
wayang dan di sebelahnya berdiri sebuah patung ‘Yan Wang’
yang biasa dijumpai di pekuburan Cina. Tidak lebih dari
seratus meter dari mulut gang sudah tidak terlihat lagi
rumah manusia melainkan hamparan batu nisan di sebelah kiri
dan kanan jalan, namun pak Giman tetap terus melaju bersama
becak kosongnya. Malam itu dia sedang menjemput salah
seorang langganan tetapnya.
RT x, kelurahan Terban, tujuan pak Giman, terletak pada tanah
liar bekas pekuburan Cina. Karena berada di suatu lembah
sungai maka rumah-rumah disana tak terlihat dari tanah datar
diatasnya yang merupakan pekuburan umum dan masih berfungsi.
Lembah tsb dikenal sebagai lembah Code sebab dibawah sana
mengalir kali Code dengan tenang dan elegan. Saat itu sang
surya telah tenggelam di peraduannya dengan meninggalkan warna
jingga lembut di ufuk barat, seolah-olah menyesali bahwa
seharian telah berlaku garang terhadap warga lembah Code;
dan sore itu sang surya berusaha memberi sedikit konsolasi
kepada mereka.
Seorang gadis kecil bernama Asri yang pernah menderita polio
berjalan tertatih-tatih melewati sebuah lengkong menuju
ke rumahnya. Rambutnya kusut, roknya kumal dan sekitar hidung
dan mulutnya cemong dengan ingus kering campur basah, namun
ekspresi wajahnya seperti biasa senantiasa ceria.
“Ee cah ayu-ayu kok yah mene isih rebes koyo bedhes !”
(anak cantik sesore ini kok masih belum mandi seperti
anak monyet).
Demikian sapaku kepada gadis kecil tsb. Seketika itu Asri
berbalik memutar pantatnya sambil berteriak kearahku,
“Pak Ekek elek, koyo mbelek !”
(pak Eko jelek seperti tahi ayam)
Aku pura-pura mengejarnya dengan menderapkan kaki ke tanah
dan menepuk tangan ke paha. Asri berusaha lari sekencangnya
tubuhnya sampai sempoyongan, tetapi berhasil juga mencapai
pintu belakang rumahnya tanpa terjatuh. Begitulah tipe dari
rata-rata warga di lembah Code, mulai dari anak-anak sampai
orang tua, selalu ramah dan ceria tetapi sekali diprovokasi
kontan balik menyerang.
Tidak berapa lama Aryo, kakak Asri, dengan muka tak kalah
cemongnya pulang ke rumah setelah seharian main tak tentu
rimbanya. Anak ini agak berkurang pendengarannya akibat
congek yang telah lama dideritanya. Tetapi keramahan dan
kesantunan Aryo tidak kalah dengan anak priyayi Yogya
manapun. Hanya, harap pikir dua kali kalau mau menyakiti
anak ini, bisa-bisa kepalamu dilempar batu dari belakang
atau barang yang paling kamu sayangi dirusaknya. Dua anak
itu dalam sekejab akan disulap oleh mbah Dipo, nenek mereka,
menjadi anak-anak yang cukup layak dipandang.
Di depan rumah ada kesibukan lain. Mbak Minah, ibu dari Asri
dan Aryo, dan mbak Midah, adiknya, sedang menyiapkan diri
untuk berangkat kerja. Profesi mereka adalah penjaja seks.
Tetapi bukan penjaja seks biasa melainkan yang berwawasan
identitas. Oleh karena itu mereka mengenakan kain dan kebaya,
dan daerah pasarannya di Sosrowijayan, tempat dimana hotel
dan losmen untuk turis tumbuh bagai jamur di musim hujan.
Mbak Minah berkulit kuning langsat dengan mata redup dan
roman muka pasrah, submissive. Oleh karena itu kebaya yang
dipilihnyapun berwarna pink, warna menyerah. Sebaliknya
mbak Midah yang memiliki lesung pipit di pipi dan kejapan
mata bak bintang Timur memilih mengenakan kebaya warna
kuning, lambang dominansi. Keduanya sudah satu jam lebih
berdandan di bawah penerangan sinar petromak. Sementara
itu pak Giman bersama becaknya menunggu dengan sabar di
halaman sambil menikmati rokok linthingan dengan aroma
kelembak – menyan.
Boniem dan Tomblok juga mempunyai profesi yang sama, cuma
mereka tergolong pada jajaran eselon yang paling rendah,
yakni kelas ‘lesehan’. Pasaran mereka di lokasi pembuangan
sampah di Jl. Perwakilan, antara jembatan Gondolayu dan
jembatan Kota Baru. Oleh karena itu mereka tidak membutuhkan
persiapan yang complicated seperti mbak Minah dan mbak Midah.
Jam kerja merekapun agak lebih longgar. Boniem bahkan masih
tenang-tenang menyusui anaknya di bangku panjang depan rumah.
Sedangkan Tomblok kemungkinan besar absen malam ini. Sebab
dia sedang menderita ‘masuk angin’, badannya ‘nglemeng’ dan
kepalanya terasa berdenyut. Terlihat potongan ’salon pas’
menempel di kedua pelipisnya dan satu potongan besar di
tengkuknya. Walaupun demikian, Tomblok masih berusaha ramah
kepada siapa saja, hanya hari itu ia nampak lebih sering
meludah.
Mbak Minah dan mbak Midah berangkat dengan diiringi tawa keras
berderai dari mbah Dipo yang sempat bercanda dengan pak Giman.
Mendengar tawa renyah dari mbah Dipo, tidak bisa tidak orang
yang mendengarnya akan teresonansi menjadi ikut ceria. Sejak
Dipo Samudro, suaminya, dibantai pada tahun 65, mbah Dipo wedok
seorang diri menahkodai biduk rumah-tangganya. Ia terusir dari
desanya, bersama kedua putrinya ia bertekat mengadu nasib di
kota Yogya. Tentu beliau sangat sarat dengan penderitaan dan
kesengsaraan hidup. Garis-garis keriput di wajahnya menunjukkan
betapa gigih pergulatannya melawan tantangan kehidupan. Garis-
garis ini lebih tepat disebut sebagai garis kemenangan. Ya,
mbah Dipo telah menjadi sang biang kehidupan yang mampu
menundukkan penderitaan, bahkan mempermainkannya semudah ia
mempermainkan susur yang selalu menempel di mulutnya, kapan
saja ia mau dengan mudah bisa diludahkannya….cuih!