Eraharjo’s Weblog

Entries categorized as ‘Uncategorized’

Mozart dan Konsep Surga

June 21, 2008 · Leave a Comment

Kiranya tidak ada yang membantah bahwa musik klasik
adalah suara surgawi. Komponis seperti Bach Sr & Jr
dalam arti tertentu adalah rasullulah (utusan Allah) yang
memperoleh wahyu surgawi untuk menulis komposisi
musik sehingga seluruh umat manusia didunia bisa turut
menikmati keindahan surga.

Rasul atau nabi bisa bermacam-macam demikian juga
komponis. Bach adalah embah-nya komponis klasik
dimana “nabi-nabi” besar lainnya seperti Haydn, Mozart
(God rest his soul) dan Beethoven berguru kepadanya.
Bach mewartakan musiknya dengan style Barok suatu
gaya yang indah nan agung yang umumnya dimainkan
di antara elite Gereja dan bangsawan.

Saya tidak tahu apakah di surga ada gerakan seperti
reformasi, revolusi atau demokratisasi yang mengacu
pada sikap hidup egaliter yakni mendistribusikan power,
kemakmuran dan nikmat surgawi ketangan rakyat biasa.
Yang jelas, dalam dunia musik klasik terdapat gerakan
semacam itu.

Adalah Herr Mozart (Wolfgang Amadeus) yang mula
pertama ‘nyleneh’ (eccentric) yakni mewartakan nikmat
surga ke semua lapisan rakyat termasuk kaum proletar.
Berbagai komposisi operanya, baik musik maupun
ceritanya adalah bertemakan kerakyatan. Dalam The
Magic Flute bahkan bahasanyapun memakai bahasa Jerman,
bahasa rakyat. Bukan bahasa Latin yang merupakan
bahasa standar kaum dewa, elite Gereja dan bangsawan.

Mozart merupakan hadiah langsung dari surga. Ia adalah
seorang child prodigy. Pada umur 4 tahun ia mengarang
Twinkle-Twinkle Litle Star. Belum genap sepuluh tahun
ia telah menulis opera secara lengkap. Kontras dengan
kejeniusannya, hidup Mozart penuh dengan kesusahan.
Ibunya meninggal pada waktu mendampingi Mozart belia
tour ke Perancis. Mozart tidak pernah memperoleh posisi
yang layak, bahkan tidak pula laku menjadi Court
Composer, yang pada waktu itu umumnya diduduki
oleh komponis dari Itali seperti Sarieli. Ia meninggal
dalam keadaan mengenaskan, miskin, tanpa pengakuan
dan dikubur secara massal (bersama puluhan mayat
lainnya dalam satu lubang).

Kisah hidup Mozart mengajarkan bahwa konsep surga
sedikit lebih complicated, yakni mengikut sertakan dunia
fana yang penuh dengan susah dan derita. Sang Budha
menjalani derita dan Samsara (sengsara) untuk menjadi
Muksa (mencapai surga). Yesus melewati Via Dolorosa
(jalan kesengsaraan) untuk mencapai kemuliaan.
Muhammad saw menjalani segala hinaan, pengusiran dan
perang demi mencapai Islam (tunduk kepada karsa Allah
Yang Maha Esa) bahkan sampai sekarang kita masih
mendengar berbagai cercaan dan hinaan yang ditujukan
kepada sang Rasullulah tsb.

Hal ini tentu mengubah motto kekanak-kanakan seperti
“Masa kecil bahagia, muda kaya raya, tua masuk surga”.
Sebab tidak demikianlah realita dari penghuni surga
sejati. Saya rasa ini merupakan konsolasi bagi kita
yang pada masa kecil kurang gizi, muda hutang KMI
(kredit mahasiswa indonesia) dan ketika tua tidak
mampu naik haji. Kesamaan dari tokoh-tokoh seperti
Mozart, Budha, Yesus, Muhammad saw adalah mereka
setia mengikuti panggilan suara hati terdalam dengan
ongkos apapun, ongkos sendiri bukan ongkos kesusahan
orang lain.

Eko Raharjo

Categories: Uncategorized

Uniti dan Disiplin Kunci Keperkasaan Bangsa

June 21, 2008 · Leave a Comment

Tahun 2005 saya berada di Chiba Perfecture dekat Tokyo.
Pagi-pagi saya di bawa Fukuyama San (tour guide)
ke rumah keluarga samurai pada Edo period, Ieyasu
Shogun (1603), era ketika VOC mulai menancapkan
kuku kolonialisme di bumi Indonesia.

Mengunjungi tiap bilik dari rumah samurai yang
serba teratur dan tertata rapi (in order) memberikan
pengertian kepada saya kenapa bangsa ini bisa bertahan
dari gelombang kolonialisasi bangsa-bangsa Eropa semasa
itu. Uniti dan disiplin adalah tulang punggung dari
peradaban bangsa Jepang yang membuat mereka mampu
bertahan pada masa-masa sesulit apapun.

Pada waktu itu jepang menganut sistem kelas. Kelas
samurai adalah kelas tertinggi setelah golongan feodal,
menyusul kelas petani, dibawahnya adalah kelas pengrajin
dan yang paling bawah adalah kelas merchant. Menariknya
kaum samurai (militer) dan petani yang merupakan kelas
tinggi justru (lebih) miskin dibanding dengan kelas
pengrajin dan merchant. Adalah biasa dalam famili samurai
untuk menanam sayur-sayuran sendiri dibelakang rumah
untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Ini adalah
distribusi power yang cukup adil.

Saya berkesempatan pula menghirup teh lokal dengan
ditemani oleh mrs Ida dan miss Yukiko dan pemusik-2
shamizen yang mendendangkan lagu-lagu kepahlawanan
masa samurai. Penghormatan dan kecintaan mereka terhadap
sejarah dan budaya merupakan juga identitas bangsa ini.
Disiplin dan uniti hanya tumbuh subur pada tanah
dengan lapisan social justice dan dipupuk dengan
kecintaan dan kebanggaan akan identitas yang datang
dari kebersamaan nasib, sejarah, dan adat dan budaya.
Bagi bangsa Jepang disiplin tidak lagi merupakan
suatu beban melainkan suatu ekspresi kecintaan dan
kebanggaan untuk menjaga ordnung (order), seperti
halnya alam mengatur sakura blossom, petani menanam
dan menuai padi, pengrajin menempa pedang katana dan
merchant mempresentasikan dagangannya nan teratur, apik.

Order merupakan ritual yang amat penting yang dilupakan
oleh umat manusia di Indonesia. Dengan menjaga order
bangsa Jepang tidak usah menunggu mati kalau mau
merasakan surga. Mereka mampu menciptakan surga dibumi.
Berada di desa Sakura diantara kebun-kebun yang dilatar
belakangi rumpun bambu dengan keramah-tamahan Mrs Ida,
Miss Yukiko, Fukuyama san, begitu indah, asri dan peni,
I feel like in heaven already.

Satu bangsa mesti mengandaikan bahwa para warganya share
the same sentiment, perasaan senasib dan sepenanggungan
(dalam frame sejarah) dan memiliki kebanggaan dan kesamaan
dalam nilai-nilai adat dan budaya (moral value, sense of
fulfilment). Ini merupakan modal yang amat penting untuk
mencapai unity dan discipline. Kemajuan ekonomi dan iptek
adalah sekedar akibat bukan merupakan komponen utama dari
jati diri bangsa. Setiap bangsa kalau memperoleh kondisi
yang cocok untuk tumbuh dan berkembang pasti akan mampu
meraih puncak keemasannya, apakah itu Egyptian, Persian,
Greek, Roman, Inca, Mayan, etc. Bangsa Jepang selalu mampu
menciptakan kondisi sehingga masyarkatnya bisa tumbuh dan
berkembang optimal sesuai potensi mereka.

Categories: Uncategorized