<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Eraharjo's Weblog</title>
	<atom:link href="http://eraharjo.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://eraharjo.wordpress.com</link>
	<description>Eko Raharjo</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Jun 2008 20:14:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='eraharjo.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Eraharjo's Weblog</title>
		<link>http://eraharjo.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://eraharjo.wordpress.com/osd.xml" title="Eraharjo&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://eraharjo.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Semalam di Lembah Code</title>
		<link>http://eraharjo.wordpress.com/2008/06/21/semalam-di-lembah-code/</link>
		<comments>http://eraharjo.wordpress.com/2008/06/21/semalam-di-lembah-code/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 02:27:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eraharjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[feminist]]></category>
		<category><![CDATA[perjuangan wanita]]></category>
		<category><![CDATA[sungai code]]></category>
		<category><![CDATA[yogya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eraharjo.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Dengan ketangkasan seorang maestro, pak Giman membanting becak kosongnya memotong keramaian lalu lintas di Jl. Simanjuntak dan masuk kesuatu gang. Sekilas gang tsb tampak tak berbeda dengan gang-gang lain yang berderet di jalan itu, cuma di sudut mulutnya terdapat sebuah &#8230; <a href="http://eraharjo.wordpress.com/2008/06/21/semalam-di-lembah-code/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eraharjo.wordpress.com&amp;blog=4031975&amp;post=8&amp;subd=eraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan ketangkasan seorang maestro, pak Giman membanting<br />
becak kosongnya memotong keramaian lalu lintas di Jl. Simanjuntak<br />
dan masuk kesuatu gang. Sekilas gang tsb tampak tak berbeda<br />
dengan gang-gang lain yang berderet di jalan itu, cuma di<br />
sudut mulutnya terdapat sebuah papan nama kecil bertuliskan<br />
Gg. Yomodipati yang adalah dewa kematian dalam mitologi<br />
wayang dan di sebelahnya berdiri sebuah patung &#8216;Yan Wang&#8217;<br />
yang biasa dijumpai di pekuburan Cina. Tidak lebih dari<br />
seratus meter dari mulut gang sudah tidak terlihat lagi<br />
rumah manusia melainkan hamparan batu nisan di sebelah kiri<br />
dan kanan jalan, namun pak Giman tetap terus melaju bersama<br />
becak kosongnya. Malam itu dia sedang menjemput salah<br />
seorang langganan tetapnya.</p>
<p>RT x, kelurahan Terban, tujuan pak Giman, terletak pada tanah<br />
liar bekas pekuburan Cina. Karena berada di suatu lembah<br />
sungai maka rumah-rumah disana tak terlihat dari tanah datar<br />
diatasnya yang merupakan pekuburan umum dan masih berfungsi.<br />
Lembah tsb dikenal sebagai lembah Code sebab dibawah sana<br />
mengalir kali Code dengan tenang dan elegan. Saat itu sang<br />
surya telah tenggelam di peraduannya dengan meninggalkan warna<br />
jingga lembut di ufuk barat, seolah-olah menyesali bahwa<br />
seharian telah berlaku garang terhadap warga lembah Code;<br />
dan sore itu sang surya berusaha memberi sedikit konsolasi<br />
kepada mereka.</p>
<p>Seorang gadis kecil bernama Asri yang pernah menderita polio<br />
berjalan tertatih-tatih melewati sebuah lengkong menuju<br />
ke rumahnya. Rambutnya kusut, roknya kumal dan sekitar hidung<br />
dan mulutnya cemong dengan ingus kering campur basah, namun<br />
ekspresi wajahnya seperti biasa senantiasa ceria.</p>
<p>&#8220;Ee cah ayu-ayu kok yah mene isih rebes koyo bedhes !&#8221;<br />
(anak cantik sesore ini kok masih belum mandi seperti<br />
anak monyet).</p>
<p>Demikian sapaku kepada gadis kecil tsb. Seketika itu Asri<br />
berbalik memutar pantatnya sambil berteriak kearahku,</p>
<p>&#8220;Pak Ekek elek, koyo mbelek !&#8221;<br />
(pak Eko jelek seperti tahi ayam)</p>
<p>Aku pura-pura mengejarnya dengan menderapkan kaki ke tanah<br />
dan menepuk tangan ke paha. Asri berusaha lari sekencangnya<br />
tubuhnya sampai sempoyongan, tetapi berhasil juga mencapai<br />
pintu belakang rumahnya tanpa terjatuh. Begitulah tipe dari<br />
rata-rata warga di lembah Code, mulai dari anak-anak sampai<br />
orang tua, selalu ramah dan ceria tetapi sekali diprovokasi<br />
kontan balik menyerang.</p>
<p>Tidak berapa lama Aryo, kakak Asri, dengan muka tak kalah<br />
cemongnya pulang ke rumah setelah seharian main tak tentu<br />
rimbanya. Anak ini agak berkurang pendengarannya akibat<br />
congek yang telah lama dideritanya. Tetapi keramahan dan<br />
kesantunan Aryo tidak kalah dengan anak priyayi Yogya<br />
manapun. Hanya, harap pikir dua kali kalau mau menyakiti<br />
anak ini, bisa-bisa kepalamu dilempar batu dari belakang<br />
atau barang yang paling kamu sayangi dirusaknya. Dua anak<br />
itu dalam sekejab akan disulap oleh mbah Dipo, nenek mereka,<br />
menjadi anak-anak yang cukup layak dipandang.</p>
<p>Di depan rumah ada kesibukan lain. Mbak Minah, ibu dari Asri<br />
dan Aryo, dan mbak Midah, adiknya, sedang menyiapkan diri<br />
untuk berangkat kerja. Profesi mereka adalah penjaja seks.<br />
Tetapi bukan penjaja seks biasa melainkan yang berwawasan<br />
identitas. Oleh karena itu mereka mengenakan kain dan kebaya,<br />
dan daerah pasarannya di Sosrowijayan, tempat dimana hotel<br />
dan losmen untuk turis tumbuh bagai jamur di musim hujan.</p>
<p>Mbak Minah berkulit kuning langsat dengan mata redup dan<br />
roman muka pasrah, submissive. Oleh karena itu kebaya yang<br />
dipilihnyapun berwarna pink, warna menyerah. Sebaliknya<br />
mbak Midah yang memiliki lesung pipit di pipi dan kejapan<br />
mata bak bintang Timur memilih mengenakan kebaya warna<br />
kuning, lambang dominansi. Keduanya sudah satu jam lebih<br />
berdandan di bawah penerangan sinar petromak. Sementara<br />
itu pak Giman bersama becaknya menunggu dengan sabar di<br />
halaman sambil menikmati rokok linthingan dengan aroma<br />
kelembak &#8211; menyan.</p>
<p>Boniem dan Tomblok juga mempunyai profesi yang sama, cuma<br />
mereka tergolong pada jajaran eselon yang paling rendah,<br />
yakni kelas &#8216;lesehan&#8217;. Pasaran mereka di lokasi pembuangan<br />
sampah di Jl. Perwakilan, antara jembatan Gondolayu dan<br />
jembatan Kota Baru. Oleh karena itu mereka tidak membutuhkan<br />
persiapan yang complicated seperti mbak Minah dan mbak Midah.<br />
Jam kerja merekapun agak lebih longgar. Boniem bahkan masih<br />
tenang-tenang menyusui anaknya di bangku panjang depan rumah.<br />
Sedangkan Tomblok kemungkinan besar absen malam ini. Sebab<br />
dia sedang menderita &#8216;masuk angin&#8217;, badannya &#8216;nglemeng&#8217; dan<br />
kepalanya terasa berdenyut. Terlihat potongan &#8216;salon pas&#8217;<br />
menempel di kedua pelipisnya dan satu potongan besar di<br />
tengkuknya. Walaupun demikian, Tomblok masih berusaha ramah<br />
kepada siapa saja, hanya hari itu ia nampak lebih sering<br />
meludah.</p>
<p>Mbak Minah dan mbak Midah berangkat dengan diiringi tawa keras<br />
berderai dari mbah Dipo yang sempat bercanda dengan pak Giman.<br />
Mendengar tawa renyah dari mbah Dipo, tidak bisa tidak orang<br />
yang mendengarnya akan teresonansi menjadi ikut ceria. Sejak<br />
Dipo Samudro, suaminya, dibantai pada tahun 65, mbah Dipo wedok<br />
seorang diri menahkodai biduk rumah-tangganya. Ia terusir dari<br />
desanya, bersama kedua putrinya ia bertekat mengadu nasib di<br />
kota Yogya. Tentu beliau sangat sarat dengan penderitaan dan<br />
kesengsaraan hidup. Garis-garis keriput di wajahnya menunjukkan<br />
betapa gigih pergulatannya melawan tantangan kehidupan. Garis-<br />
garis ini lebih tepat disebut sebagai garis kemenangan. Ya,<br />
mbah Dipo telah menjadi sang biang kehidupan yang mampu<br />
menundukkan penderitaan, bahkan mempermainkannya semudah ia<br />
mempermainkan susur yang selalu menempel di mulutnya, kapan<br />
saja ia mau dengan mudah bisa diludahkannya&#8230;.cuih!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/eraharjo.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/eraharjo.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eraharjo.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eraharjo.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eraharjo.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eraharjo.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eraharjo.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eraharjo.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eraharjo.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eraharjo.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eraharjo.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eraharjo.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eraharjo.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eraharjo.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eraharjo.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eraharjo.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eraharjo.wordpress.com&amp;blog=4031975&amp;post=8&amp;subd=eraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eraharjo.wordpress.com/2008/06/21/semalam-di-lembah-code/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fbf40cceeaec5aba453bfde4ae84451a?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">eraharjo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mozart dan Konsep Surga</title>
		<link>http://eraharjo.wordpress.com/2008/06/21/mozart-dan-konsep-surga/</link>
		<comments>http://eraharjo.wordpress.com/2008/06/21/mozart-dan-konsep-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 02:10:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eraharjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eraharjo.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Kiranya tidak ada yang membantah bahwa musik klasik adalah suara surgawi. Komponis seperti Bach Sr &#38; Jr dalam arti tertentu adalah rasullulah (utusan Allah) yang memperoleh wahyu surgawi untuk menulis komposisi musik sehingga seluruh umat manusia didunia bisa turut menikmati &#8230; <a href="http://eraharjo.wordpress.com/2008/06/21/mozart-dan-konsep-surga/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eraharjo.wordpress.com&amp;blog=4031975&amp;post=5&amp;subd=eraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kiranya tidak ada yang membantah bahwa musik klasik<br />
adalah suara surgawi. Komponis seperti Bach Sr &amp; Jr<br />
dalam arti tertentu adalah rasullulah (utusan Allah) yang<br />
memperoleh wahyu surgawi untuk menulis komposisi<br />
musik sehingga seluruh umat manusia didunia bisa turut<br />
menikmati keindahan surga.</p>
<p>Rasul atau nabi bisa bermacam-macam demikian juga<br />
komponis. Bach adalah embah-nya komponis klasik<br />
dimana &#8220;nabi-nabi&#8221; besar lainnya seperti Haydn, Mozart<br />
(God rest his soul) dan Beethoven berguru kepadanya.<br />
Bach mewartakan musiknya dengan style Barok suatu<br />
gaya yang indah nan agung yang umumnya dimainkan<br />
di antara elite Gereja dan bangsawan.</p>
<p>Saya tidak tahu apakah di surga ada gerakan seperti<br />
reformasi, revolusi atau demokratisasi yang mengacu<br />
pada sikap hidup egaliter yakni mendistribusikan power,<br />
kemakmuran dan nikmat surgawi ketangan rakyat biasa.<br />
Yang jelas, dalam dunia musik klasik terdapat gerakan<br />
semacam itu.</p>
<p>Adalah Herr Mozart (Wolfgang Amadeus) yang mula<br />
pertama &#8216;nyleneh&#8217; (eccentric) yakni mewartakan nikmat<br />
surga ke semua lapisan rakyat termasuk kaum proletar.<br />
Berbagai komposisi operanya, baik musik maupun<br />
ceritanya adalah bertemakan kerakyatan. Dalam The<br />
Magic Flute bahkan bahasanyapun memakai bahasa Jerman,<br />
bahasa rakyat. Bukan bahasa Latin yang merupakan<br />
bahasa standar kaum dewa, elite Gereja dan bangsawan.</p>
<p>Mozart merupakan hadiah langsung dari surga. Ia adalah<br />
seorang child prodigy. Pada umur 4 tahun ia mengarang<br />
Twinkle-Twinkle Litle Star. Belum genap sepuluh tahun<br />
ia telah menulis opera secara lengkap. Kontras dengan<br />
kejeniusannya, hidup Mozart penuh dengan kesusahan.<br />
Ibunya meninggal pada waktu mendampingi Mozart belia<br />
tour ke Perancis. Mozart tidak pernah memperoleh posisi<br />
yang layak, bahkan tidak pula laku menjadi Court<br />
Composer, yang pada waktu itu umumnya diduduki<br />
oleh komponis dari Itali seperti Sarieli. Ia meninggal<br />
dalam keadaan mengenaskan, miskin, tanpa pengakuan<br />
dan dikubur secara massal (bersama puluhan mayat<br />
lainnya dalam satu lubang).</p>
<p>Kisah hidup Mozart mengajarkan bahwa konsep surga<br />
sedikit lebih complicated, yakni mengikut sertakan dunia<br />
fana yang penuh dengan susah dan derita. Sang Budha<br />
menjalani derita dan Samsara (sengsara) untuk menjadi<br />
Muksa (mencapai surga). Yesus melewati Via Dolorosa<br />
(jalan kesengsaraan) untuk mencapai kemuliaan.<br />
Muhammad saw menjalani segala hinaan, pengusiran dan<br />
perang demi mencapai Islam (tunduk kepada karsa Allah<br />
Yang Maha Esa) bahkan sampai sekarang kita masih<br />
mendengar berbagai cercaan dan hinaan yang ditujukan<br />
kepada sang Rasullulah tsb.</p>
<p>Hal ini tentu mengubah motto kekanak-kanakan seperti<br />
&#8220;Masa kecil bahagia, muda kaya raya, tua masuk surga&#8221;.<br />
Sebab tidak demikianlah realita dari penghuni surga<br />
sejati. Saya rasa ini merupakan konsolasi bagi kita<br />
yang pada masa kecil kurang gizi, muda hutang KMI<br />
(kredit mahasiswa indonesia) dan ketika tua tidak<br />
mampu naik haji. Kesamaan dari tokoh-tokoh seperti<br />
Mozart, Budha, Yesus, Muhammad saw adalah mereka<br />
setia mengikuti panggilan suara hati terdalam dengan<br />
ongkos apapun, ongkos sendiri bukan ongkos kesusahan<br />
orang lain.</p>
<p>Eko Raharjo</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/eraharjo.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/eraharjo.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eraharjo.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eraharjo.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eraharjo.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eraharjo.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eraharjo.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eraharjo.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eraharjo.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eraharjo.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eraharjo.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eraharjo.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eraharjo.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eraharjo.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eraharjo.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eraharjo.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eraharjo.wordpress.com&amp;blog=4031975&amp;post=5&amp;subd=eraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eraharjo.wordpress.com/2008/06/21/mozart-dan-konsep-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fbf40cceeaec5aba453bfde4ae84451a?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">eraharjo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Uniti dan Disiplin Kunci Keperkasaan Bangsa</title>
		<link>http://eraharjo.wordpress.com/2008/06/21/hello-world/</link>
		<comments>http://eraharjo.wordpress.com/2008/06/21/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 01:21:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eraharjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Tahun 2005 saya berada di Chiba Perfecture dekat Tokyo. Pagi-pagi saya di bawa Fukuyama San (tour guide) ke rumah keluarga samurai pada Edo period, Ieyasu Shogun (1603), era ketika VOC mulai menancapkan kuku kolonialisme di bumi Indonesia. Mengunjungi tiap bilik &#8230; <a href="http://eraharjo.wordpress.com/2008/06/21/hello-world/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eraharjo.wordpress.com&amp;blog=4031975&amp;post=1&amp;subd=eraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun 2005 saya berada di Chiba Perfecture dekat Tokyo.<br />
Pagi-pagi saya di bawa Fukuyama San (tour guide)<br />
ke rumah keluarga samurai pada Edo period, Ieyasu<br />
Shogun (1603), era ketika VOC mulai menancapkan<br />
kuku kolonialisme di bumi Indonesia.</p>
<p>Mengunjungi tiap bilik dari rumah samurai yang<br />
serba teratur dan tertata rapi (in order) memberikan<br />
pengertian kepada saya kenapa bangsa ini bisa bertahan<br />
dari gelombang kolonialisasi bangsa-bangsa Eropa semasa<br />
itu. Uniti dan disiplin adalah tulang punggung dari<br />
peradaban bangsa Jepang yang membuat mereka mampu<br />
bertahan pada masa-masa sesulit apapun.</p>
<p>Pada waktu itu jepang menganut sistem kelas. Kelas<br />
samurai adalah kelas tertinggi setelah golongan feodal,<br />
menyusul kelas petani, dibawahnya adalah kelas pengrajin<br />
dan yang paling bawah adalah kelas merchant. Menariknya<br />
kaum samurai (militer) dan petani yang merupakan kelas<br />
tinggi justru (lebih) miskin dibanding dengan kelas<br />
pengrajin dan merchant. Adalah biasa dalam famili samurai<br />
untuk menanam sayur-sayuran sendiri dibelakang rumah<br />
untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Ini adalah<br />
distribusi power yang cukup adil.</p>
<p>Saya berkesempatan pula menghirup teh lokal dengan<br />
ditemani oleh mrs Ida dan miss Yukiko dan pemusik-2<br />
shamizen yang mendendangkan lagu-lagu kepahlawanan<br />
masa samurai. Penghormatan dan kecintaan mereka terhadap<br />
sejarah dan budaya merupakan juga identitas bangsa ini.<br />
Disiplin dan uniti hanya tumbuh subur pada tanah<br />
dengan lapisan social justice dan dipupuk dengan<br />
kecintaan dan kebanggaan akan identitas yang datang<br />
dari kebersamaan nasib, sejarah, dan adat dan budaya.<br />
Bagi bangsa Jepang disiplin tidak lagi merupakan<br />
suatu beban melainkan suatu ekspresi kecintaan dan<br />
kebanggaan untuk menjaga ordnung (order), seperti<br />
halnya alam mengatur sakura blossom, petani menanam<br />
dan menuai padi, pengrajin menempa pedang katana dan<br />
merchant mempresentasikan dagangannya nan teratur, apik.</p>
<p>Order merupakan ritual yang amat penting yang dilupakan<br />
oleh umat manusia di Indonesia. Dengan menjaga order<br />
bangsa Jepang tidak usah menunggu mati kalau mau<br />
merasakan surga. Mereka mampu menciptakan surga dibumi.<br />
Berada di desa Sakura diantara kebun-kebun yang dilatar<br />
belakangi rumpun bambu dengan keramah-tamahan Mrs Ida,<br />
Miss Yukiko, Fukuyama san, begitu indah, asri dan peni,<br />
I feel like in heaven already.</p>
<p>Satu bangsa mesti mengandaikan bahwa para warganya share<br />
the same sentiment, perasaan senasib dan sepenanggungan<br />
(dalam frame sejarah) dan memiliki kebanggaan dan kesamaan<br />
dalam nilai-nilai adat dan budaya (moral value, sense of<br />
fulfilment). Ini merupakan modal yang amat penting untuk<br />
mencapai unity dan discipline. Kemajuan ekonomi dan iptek<br />
adalah sekedar akibat bukan merupakan komponen utama dari<br />
jati diri bangsa. Setiap bangsa kalau memperoleh kondisi<br />
yang cocok untuk tumbuh dan berkembang pasti akan mampu<br />
meraih puncak keemasannya, apakah itu Egyptian, Persian,<br />
Greek, Roman, Inca, Mayan, etc. Bangsa Jepang selalu mampu<br />
menciptakan kondisi sehingga masyarkatnya bisa tumbuh dan<br />
berkembang optimal sesuai potensi mereka.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/eraharjo.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/eraharjo.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eraharjo.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eraharjo.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eraharjo.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eraharjo.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eraharjo.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eraharjo.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eraharjo.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eraharjo.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eraharjo.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eraharjo.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eraharjo.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eraharjo.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eraharjo.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eraharjo.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eraharjo.wordpress.com&amp;blog=4031975&amp;post=1&amp;subd=eraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eraharjo.wordpress.com/2008/06/21/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fbf40cceeaec5aba453bfde4ae84451a?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">eraharjo</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
